Misteri Kain Kafan Tak Bersaku

By Karno Nur Cahyo

26 August 2019

Assalamualaikum teman-teman, alhamdulillah akhirnya bisa mempublish satu artikel lagi hari ini, setelah beberapa bulan kemarin sempat vakum karena perubahan konsentrasi ke skripsi dan tugas perkuliahan ^_^.

Hari ini saya akan bercerita tentang salah satu bab pembahasan yang ada di buku Kembali ke Titik Nol karya Mas Saptuari Sugiharto, saya ambil dari Bab 1 \”Konsep Rezeki\” Catatan ke 4 \”Misteri Kain Kafan Tak Bersaku\” ini baru salah satu catatan di Bab 1, masih ada 5 catatan lagi di Bab 1 dan masih ada 11 Bab lagi yang pembahasannya cakep-cakep, hehe. Dan baru masuk bab 1 saja jujur langsung diobrak-abrik perasaan kita dan pemahaman kita tentang rezeki.

Buku ini tidak tersedia di Gramedia, pembeliannya bisa online lewat ecommerceecommerce yang ada di Indonesia, bisa dicari dengan kata kunci Jogistore, atau langsung lewat situsnya Jogist Store, insha allah investasi pembelian buku ini ndak akan rugi teman-teman ^_^.

Oke salah satu catatan yang saya ambil adalah catatan tentang Misteri Kain Kafan Tak Bersaku, ada 2 cerita nyata yang ditulis Mas Saptuari, berikut ceritanya:

Kita tidak akan tahu rezeki yang datang pada kita dari mana, apakah itu dari pekerjaan kita sehari-hari ataukah dari hal yang tidak terduga. Yang jelas, Allah menyuruh kita untuk bekerja dan berusaha.

Seperti kisah tulisan Ernidar Irfan/Yeti Haryati di bawah ini, sudah tersebar di berbagai media sosial, mungkin kita akan merasa malu pada diri sendiri jika membaca kisah ini:

 

REJEKI BANYAK BENTUKNYA
Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak menumpang berteduh di teras ruko saya.
Masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan belum berhenti.
Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang.
Saya keluar memberikan air minum.
“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” .. “Mana masih banyak banget.”
Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya.
“Aamiin,” kataku.
“Kalau gak abis gimana, Pak?”. tanyaku.
“Kalau gak abis ya risiko, Bu.., kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga senang daripada kebuang. Kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapat nilai sedekah,” katanya tersenyum.
“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu…” Katanya sambil tersenyum.
“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, Bu…”
“kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Berarti rejeki saya bersabar, Bu… Allah yang ngatur rejeki, Bu… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan.
“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.
“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan ..Makasih yaa ,Bu…”
Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.
Saya jadi sadar bahwa rezeki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh…jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan…

 

Teman-teman, ada kisah lainnya yang pernah saya baca. Seorang tukang kayu yang menempelkan tulisan di tempat kerjanya.

KERJA ADALAH SELINGAN MENUNGGU WAKTU SHOLAT

Tukang kayu itu setiap ada panggilan adzan dia bergegas ke masjid, mengganti baju yang bersih dan meninggalkan pekerjaannya. Usai sholat dia mulai bekerja lagi…. Begitu seterusnya!
Adzan… Sholat tepat waktu. Lalu bekerja lagi…
Adzan… Sholat lagi tepat waktu. Lalu dia bekerja lagi…
Kita yang masih hidup dalam nafsu mengejar dunia, seolah berlomba banyak-banyakan harta.
Kawan… Tahukan kamu kenapa kain kafan tak bersaku? Karena saku itu tidak bisa dipakai untuk membawa apapun, tidak ada yang bisa dibawa mati dan sepertinya akan sirna berlalu.

 

Demikian Catatan 4 dari Konsep Rezeki, semoga bermanfaat ya teman-teman, see you next time, jangan lupa tersenyum hari ini…
Wassalamualaikum…

About Karno Nur Cahyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *