Impian di Atas Kertas
Penulis: Vina Rosalina
katagenul.blogspot.com
Jangan berhenti untuk bermimpi, gantunglah mimpi-mimpimu di atas langit bersama bintang-bintang, karena saat kau jatuh setidaknya kamu terjatuh di antara bintang-bintang.
“Apa hubungannya impian yang ditulis di kertas lalu dibiarkan mengalir di sungai dengan terwujudnya sebuah impian?” pikirku saat melihat sebuah film berjudul Perahu Kertas di rumah temanku, yang membawa pesan menganjurkan menulis semua impian agar bisa cepat terwujud. Oh iya perkenalkan aku Anggita Dwi Setiowati, sering dipanggil Ita tapi ada juga nama bekenku dari SD sampai saat ini di usiaku yang sudah mencapai kepala dua yaitu Genul. Aku lahir dan tinggal di Kota Pekalongan, aku anak ke 2 dari 3 bersaudara.
Beberapa bulan yang lalu aku menuliskan impian-impianku, hal ini bermula dari rasa penasaranku terhadap film yang pernah aku lihat sebelumnya. Akankah impian-impianku menjadi kenyataan? Tanpa pikir panjang aku segera menuliskan impian-impian yang aku ingin capai, khususnya yang ditargetkan untuk tahun ini. Aku tidak sendirian menuliskan mimpi-mimpi itu, aku bersama satu teman dekatku, dia dipanggil MJ, bukan Merry Jane tapi nama sebenarnya adalah Miftahul Jannah, MJ juga tertarik untuk menuliskan impian-impiannya.
Aku dan temanku fokus memikirkan dan mencatat impian masing-masing. Aku ingat saat itu impian terbesar dan terdekatku adalah aku ingin bekerja di Jakarta. Impian itu aku tulis menjadi impian nomor satu dengan tulisan yang paling besar, kemudian diikuti dengan impian-impian yang lainnya. Setelah kami selesai menuliskan impian di secarik kertas yang kami miliki, kami langsung menuju ke sungai yang berada di area samping sekolah. Tujuan kami menuliskan impian-impian itu disecarik kertas adalah agar kami selalu ingat dengan impian-impian itu, dengan mengingat impian-impian itu aku bisa lebih bersemangat untuk belajar agar bisa lebih mudah untuk mewujudkannya.
Aku fokus untuk memikirkan bagaimana aku bisa lulus dengan nilai terbaik dan bisa bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebelum pengumuman kelulusan tiba dan sebelum meminta ijin bekerja ke Jakarta, mama dan papa sempat berpesan kepadaku, setelah lulus nanti aku harus melanjutkan sekolah atau kuliah di salah satu universitas yang berada di Kota Pekalongan, mendengarkan pesan tersebut membuatku bimbang dengan apa yang akan menjadi keputusanku kedepannya, bekerja di Jakarta adalah salah satu impian besarku tetapi disisi lain mungkin orang tuaku sangat berat mengijinkanku bekerja di Jakarta.
Kelulusan pun sudah di depan mata, 2 hari menuju pengumuman kelulusan sekolah, aku pun bergegas memberitahu orang tuaku bahwa aku ingin bekerja di Jakarta, “ma, pa, setelah kelulusan, Ita ingin bekerja di Jakarta bersama dengan teman-teman Ita”. Setelah aku menyampaikan keinginanku, papa dan mama sepertinya masih memikirikan yang terbaik kedepannya untuk diriku, mereka hanya diam sambil menonton televisi di ruang keluarga. 15 menit kemudian papa bertanya, “memang istimewanya bekerja jauh-jauh ke Jakarta apa? sampai-sampai kamu ingin sekali pergi ke sana?”.
“ingin merasakan cari uang sendiri dan hidup mandiri, Ita janji tidak akan berbuat macam-macam di luar sana”, janjiku kepada papa sembari menjawab pertanyaan papa.
“kerja di Pekalongan kan bisa, tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta” Papa merespon kembali dengan sarannya.
Sempat merasa sedih dan putus harapan mendengar tanggapan yang diberikan oleh papa, yang menurutku tidak mengijinkanku bekerja di Jakarta, aku berfikir “akankah mimpi-mimpiku yang sudah pernah aku tulis bersama temanku akan tercapai?” tak berhenti aku berdoa agar orang tuaku memberikan ijin kepadaku untuk bekerja di Jakarta.
Aku bersama salah satu temanku yang lain yang bernama Lina, sebelum pengumuman kelulusan, kami mencoba mendaftar di beberapa perusahaan yang memiliki kantor pusat di Jakarta dan sekitarnya. Kemudian hari pengumuman kelulusan tiba, dan surat pengumuman keululusan menyatakan bahwa aku lulus, akupun tak lupa untuk beryukur setelah perjuangan selama 3 tahun terbayar sudah dengan kelulusan ini, “alhamdulillah aku lulus”.
Beberapa bulan setelah kelulusan, aku mendapat panggilan pekerjaan di salah satu perusahaan yang berada di Jakarta, tak disangka salah satu impianku akan terwujud. Tetapi kekhawatiranku muncul kembali karena sebelumnya tidak mendapatkan ijin dari orang tuaku untuk bekerja di Jakarta.
“Pa, Ita boleh berangkat ke Jakarta? Ita diterima di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta.”
Rasa penasaran dan rasa takut bercampur menjadi satu di malam hari yang sunyi kala itu.
“Tapi kamu di sana tidak akan membuat papa dan mama khawatir kan? Bukannya papa menolak kamu bekerja dan hidup mandiri, tetapi rasa khawatir papa terhadap kamu sangatlah tinggi, kamu kan belum punya pengalaman kerja disana terlebih kamu kan perempuan“ Ucap Papa sambil mengusap-usap kepalaku.
“Insya Allah, Ita bisa jaga diri baik-baik Pa, dan selalu memberikan kabar ke mama dan papa”.
“Oke Papa percaya sama kamu, tetapi ingat jangan salah pergaulan, dan utamakan ibadah. Kapan kamu berangkat ke Jakarta?”.
“Insya Allah, setelah lebaran Ita sudah harus berangkat ke Jakarta pa”.
“Sama siapa nanti berangkat ke Jakarta?”.
“Lina Pa” jawabku mengenai teman keberangkatanku ke Jakarta.
“Ya sudah di sana jaga diri baik-baik, sekali lagi ingat, tetap utamakan ibadah, Papa mama nggak bisa jaga kamu disana, yang bisa jaga kamu cuma Allah SWT”.
“Siap Pa” jawabku dengan perasaan bahagia karena Papa sudah memberikan ijin kepadaku, karena rida Allah SWT adalah rida orang tua.
Setelah melewati masa-masa sulit meminta ijin kepada orang tuaku akhirnya impian terbesarku bekerja di Jakarta akan segera terwujud. Lebaran sudah usai, saatnya aku dan Lina berangkat ke Jakara, dengan waktu tempuh selama 6 jam perjalanan menggunakan bus, akhirnya kami sampai juga di Jakarta. Untuk tempat tinggal selama di Jakarta, kami dibantu Adit untuk mencarikan kontrakan di sekitar kantor tempat kami bekerja nanti, Adit ini adalah salah satu teman SMK kami, Adit sudah 1 bulan lebih awal bekerja di Jakarta, di tempat yang sama dengan tempat kami bekerja. Setibanya di stasiun, aku dan Lina langsung menuju ke kontrakan yang sudah ditemukan Adit sebelumnya.
“Nanti langsung minta kunci sama ibu kos”.
“Ok Dit, terima kasih sudah luangin waktu buat cariin kosan”.
“Iya sama-sama, udah dulu ya sampai besok”.
17 Juli 2017 hari pertama aku dan Lina bekerja di PT Brainmatics Cipta Informatika, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT training yang namanya sudah cukup terkenal di daerah Jakarta dan sekitarnya. Perusahaan ini lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami sekarang,
jadi setiap harinya aku berangkat dan pulang dengan berjalan kaki, tidak menggunakan transportasi umum dan alhamdulillah jarang merasakan macetnya Jakarta. Hari pertama aku bekerja, proses adaptasi tidak semudah yang aku pikirkan, akan tetapi aku tetap terus mencoba untuk beradaptasi di lingkungan baru. Hari pertama belum banyak pekerjaan yang aku kerjakan, aku bekerja sebagai staf marketing.
“Ita, kamu belajar dulu, untuk sementara kamu di Ruang Ricard Stallman sambil baca-baca standar operasional prosedur (SOP) yang kita miliki” .
“Baik Pak” jawabku terhadap perintah Pak Mansyur yang menjabat sebagai General Manager PT Brainmatics Cipta Informatika.
Banyak yang harus aku pelajari sebelum aku menawarkan produk atau menjual produk yang dimiliki oleh perusahaan. Tepat pukul 12.00 WIB waktu jam istirahat untuk karyawan tiba.
“Kita mau makan siang apa Nul?” pertanyaan dari Lina sambil memanggil nama bekenku.
“Apa ya, kita cari yang murah aja itung-itung ngirit uang saku dari orang tua biar tidak cepat habis”.
Setiap pagi aku dan Lina melewati parkiran motor dan melihat beberapa pedagang kaki lima bejualan di sekitar sana.
“eh Lin, kita ke parkiran saja di sana banyak pedagang kaki lima yang berjualan”.
“boleh”.
“aku mau beli siomay, kamu apa terserah pilih aja”.
“aku juga siomay”.
(Setibanya di parkiran motor)
“Bang beli siomay 2 porsi masing-masing 5000 saja bang”.
“di sini satu porsi 10.000 neng”.
“oh gitu bang, aku kira bisa beli 5000, ya sudah aku beli 2 porsi ya bang”.
13.00 WIB sudah waktunya kami kembali bekerja. Aku melanjutkan tugasku yang sebelumnya yaitu belajar tentang SOP perusahaan. Sambil belajar SOP perusahaan aku membantu beberapa karyawan yang sedang membutuhkan bantuan entah itu mencetak dokumen atau hal lainnya. Proses bekerja di hari pertama menurutku belum terasa melelahkan, bel pulang kantor berbunyi tepat pukul 17.00 WIB, tanda waktu bekerja sudah usai, aku dan Lina beserta teman-teman yang lain bersiap pulang untuk beristirahat. Malam pertama aku merasakan hidup jauh dari orang tua, semuanya dilakukan sedirian. Aku harus bisa dan di sini aku tidak sedirian, ada Allah bersamaku. Keesokan harinya, berhubung kamar mandi di kontrakan kami terbatas dan digunakan bersama-sama dengan penghuni yang lain, jadi untuk mandi kami harus antri, ibarat kata” siapa cepat dia dapat”.
Selasa, 18 Juli 2017 aku kembali bekerja seperti biasa berjalan melewati jalan yang sama sambil mendengarkan musik yang ada di playlist musik kesukaanku. Bangun pagi, berangkat pagi pulang sore, dan mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab seorang marketing, itulah aktivitas yang aku kerjakan setiap hari.
Sudah satu tahun tepatnya aku bekerja di PT Brainmatics Cipta Informatika, banyak pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan selama satu tahun ini. Tidak lupa dengan impian papa, beliau menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi atau masuk ke bangku perkuliahan. Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa dari Brainmatics untuk melanjutkan studi strata satu (S1) di Univesitas Indraprasta, dengan syarat setiap semester aku harus bisa mendapatkan indeks prestasi (IP) diatas 3,00.
Setelah pulang dari kantor tidak lama kemudian aku mengirim pesan ke papa.
“Assalamualaikum Pa, Ita alhamdulillah dapat beasiswa dari perusahaan untuk kuliah, jadi papa jangan khawatir, Ita di sini juga melanjutkan sekolah lagi”.
“alhamdulillah, jangan lupa nduk manfaatkan waktu dengan baik, jaga kesehatan dan pola makan, ingat larangan makan yang membuat kamu sakit, dan jangan pernah kamu coba tinggalkan ibadahmu”. Isi SMS dari Papa 5 menit kemudian.
“Ingat, setinggi-tingginya kita belajar, manfaat keberkahan akan datang bila dibagikan dengan orang lain, setinggi-tingginya jabatan pekerjaan kita, manfaat keberkahan akan datang bila berguna untuk sesama, simpan kata-kata Papa di buku harianmu” Masuk lagi SMS dari Papa berselang 5 menit dari pesan pertama.
“Siap papa, terima kasih dukungan papa dan mama selama ini, Ita semakin semangat mencari ilmu dan bekerja keras, hidup lebih mandiri walaupun terkadang Ita masih merepotkan papa”. Isi pesan SMSku untuk membalas SMS dari Papa.
Satu persatu impian yang telah aku tulis alhamdulillah tercapai atas ijin Allah SWT, dibalik keberhasilan tidak lepas dari doa dan usaha kita, terutama doa dari orang tua. Kondisi berjauhan dengan orang tua aku yakini ini pemberian dari Allah SWT, menjadikan rindu ini sebagai sebuah cobaan ketika berjauhan dan menjadi suatu kenikmatan yang sangat berharga saat bertemu nanti.
Penulis: Vina Rosalina
Penyunting Tulisan: Vina Rosalina & Karno Nur Cahyo
Sumber Tulisan: katagenul.blogspot.com
Sumber Gambar: http://annisadwiastuti.blogspot.com/2012/08/daftar-100-mimpi-setelah-satu-tahun.html
Email: vinarosalina90@gmail.com
No.tlp aktif: 0813-8252-4799
Instagram: @katagenul
Dalam rangka mengikuti lomba: http://www.eventhunterindonesia.com/lomba-cerpen-nasional-eropa-2019-hadiah-paket-liburan-ke-5-negara-eropa/

ku tunggu di tulisan selanjutnya …