Berteman dengan Orang Baik dengan Cara yang Baik
Penulis: Anggita Setiyowati
Penyunting: Karno Nur Cahyo
“Mbak” Bapak mengetuk pintu kamar ku sambil memanggilku.
“njeh Pak?” jawabku menyahut Bapak.
“ada tamu cari kamu” kata Bapak.
”siapa pak?” tanyaku kepada Bapak.
“bapak ndak tau, katanya teman SMPmu” jawab Bapak.
Saat itu aku langsung menuju pintu depan yang di sana ada seorang laki-laki yang aku agak pangling/lupa dengan wajah dan perawakannya, dia membawa beberapa lembar undangan pernikahan atau kalau dalam bahasa jawa disebut sebagai serat ulem di tangannya, setelah beberapa detik aku mengamati, aku baru ingat ternyata dia Bima teman SMPku.
“oh Bima ya?, masuk-masuk Bim” celoteh ku menyapa Bima.
“Assalamualaikum Nis, hehe ndak usah Nis, ini aku mau kasih undangan dari Putri, undangan pernikahannya dia, dia nikah sama temen SMP kita juga Nis, sama si Haris” jawab Bima.
“oh Putri dan Haris teman sekelas kita yang jadi ketua & wakil ketua OSIS SMP kan ya?” tanyaku ke Bima untuk memastikan undangan itu.
“iya Nis betul, ini undangannya ya, acaranya tanggal 26 Agustus 2019 ya, hari Minggu besok Nis” Ucap Bima sambil menyerahkan undangan pernikahannya kepada ku.
“Okey Nis sudah dulu ya, ngapunten aku langsung pamit ya, masih banyak undangan yang mau ku sebar soal’e hehe” ucap Bima kepadaku.
“oh iya, oke Bim, nggak mau minum-minum dulu?” tanyaku kepada Bima.
“hehe ndak usah Nis, makasih. Okey Nis aku pergi dulu ya, assalamualaikum” ucap Bima sambil meninggalkan rumahku.
“Oke Bim, Walaikumsallam, makasih ya Bim undangannya” jawabku kepada Bima.
Ku buka undangan itu, disitu tertera tanggal dan waktu pernikahannya, sambil membuka undangan tersebut aku bertanya dalam hati “tanggal 26 Agustus? hari Minggu besok? Mau datang sama siapa ya? Teman SMP yang lain kayaknya mereka datang udah sama pasangan mereka masing-masing deh, kayaknya sudah semuanya menikah, sedangkan ini sudah hari Rabu malam tanggal 22 Agustus, apa aku datang sendiri ya?”
Tak lama kemudian HP ku berbunyi, ada pesan WhatsApp yang masuk ke HPku “Halo Nis, dapat undangan pernikahan dari Putri kah? Barengan yuk” pesan ini dari nomer telepon baru yang belum ku kenal, setelah ku buka foto profilnya ternyata Angelia, teman dekat SMPKu, bisa ku bilang dia Best Friend ForeverKu waktu SMP, #eaaaa.
Oh iya perkenalkan namaku Annisa Perdana Sari dan temanku yang akan kuceritakan bernama lengkap Angelia Monica Indrawati kami sahabat yang berbeda agama, aku beragama Islam dan dia beragama Kristen, kami berteman mulai dari bangku SMP, saat ini usia kami masing-masing 24 tahun, dan takdir dari tuhan, kami sama-sama belum menikah saat ini, hehe.
Kami berteman dengan asal mula yang tak disengaja, kembali sewaktu aku duduk di bangku SMP, saat itu aku tak mengenal siapapun di kelas VII-F, kelas ku saat aku baru masuk pertama kali di SMP N 1 Boyolali, kebetulan karena nilai ujian nasionalku waktu SD lumayan bagus jadi alhamdulillah aku masuk ke kelas VII-F kelas favorit di SMPku. Awal aku bertemu Angelia adalah saat wali kelasku waktu itu yang bernama Bu Mentari, beliau memberikan tugas untuk membuat kelompok belajar beranggotakan 2 orang dengan cara memilih sendiri teman yang ingin dijadikan patner, saat itulah Angelia seorang siswi yang duduk di depanku, dia menengok kearahku, dia mengajakku berkenalan dengan sangat antusias.
“Halo Aku Angelia Monica Indrawati sering dipanggil Angel, namamu siapa?” Ucap Angel saat itu sambil menyodorkan tangannya kepadaku untuk bersalaman kepadaku.
Saat itu pertama kali aku bertemu dengan orang yang sangat bersemangat dalam berbicara dengan ku. Karena aku adalah orang yang tak akan berbicara duluan dengan orang yang belum ku kenal sebelumnya, maka dari itu aku sangat senang berteman dengannya karena dia bisa mengajariku cara untuk lebih membuka diri untuk berteman dengan orang lain.
Kami berdua memiliki banyak kesamaan, salah satunya kami sama-sama sangat suka dengan Korea POP atau yang lebih sering disebut KPOP dan sama-sama bisa berbahasa korea, hehe. Saat kami duduk di bangku kelas IX, Bu Mentari memutuskan untuk kelompok belajar yang sudah dibuat sebelumnya diperbanyak anggotanya menjadi 4 orang, kelompok belajar ini dibuat untuk mempersiapkan ujian nasional kelas IX. Dengan beranggotakan 4 orang, tentu aku dan Angelia tetap dalam 1 kelompok dan kami mendapatkan tambahan 2 orang lainnya yaitu Ambar dan Fitri, saat itu aku melihat jadwal belajar kelompok yang lain, mayoritas memutuskan untuk menentukan jam belajar mereka pada hari minggu pagi, tetapi itu tak kami terapkan pada kelompok kami, karena di kelompok kami ada yang berbeda agama yaitu Angelia, dia harus beribadah ke gereja hari minggu pagi dan baru pulang sekitar jam 1 siang dari gereja, dengan sebuah musyawarah, akhirnya kami putuskan untuk jam belajar kelompok kami dimulai sekitar jam 2 siang, mengikuti jadwal pulangnya Angelia dari gereja. Sampai saat kami lulus dari bangku SMP, alhamdulilah kami semua, aku, Angel, Ambar, dan Fitri semua lulus dengan nilai yang memuaskan. Setelah lulus dari bangku SMP, aku dan Angel sudah jarang sekali berkomunikasi lagi, karena sibuk dengan urusan masing-masing dan juga karena kami tak berada di 1 SMA yang sama lagi.
Setelah sekian lama tak berjumpa, akhirnya kami saling berhubungan untuk menghadiri pernikahan Haris dan Putri, “Oh Nis, hari Minggu mau ketemu dimana kita?” tanya Angel melalui WA,
Akupun membalas “Gimana kalau di tempat kamu nungguin aku pas belajar kelompok kelas 3?”
Angel pun menjawab “Wah aku udah agak lupa Nis belokan-belokannya, hehe, maklum udah 7 tahun yang lalu ^_^, gimana kalau aku jemput di rumahmu saja Nis?”.
“Kamu masih ingat rumahku Ngel?” tanyaku kepada Angel,
Angel pun menjawab “Pasti masih ingat lah, kan aku 3 tahun waktu itu bolak-balik rumahmu, rumahmu juga gampang diakses lagi, tinggal di pinggir jalan raya, hehe”.
“Oh iya ya, hehe oke deh, hari Minggu mau jam berapa Ngel?” tanyaku lagi ke Angel untuk kepastian keberangkatan di hari Minggu,
“Agak siangan aja gimana Nis? Aku harus ke Gereja dulu, hehe”. jawab Angel
“Oke Ngel nggak apa-apa, habis kamu dari gereja aja ya berangkatnya, jangan lupa kabari aku lagi ya” Jawabku kepada Angel.
“Siap Nis” Chat dari Angel yang menutup percakapan kami di Rabu malam yang diiringin dengan gerimis turun dari langit.
Di Jumat sore setelah aku pulang kerja dari rumah sakit, ada pesan masuk dari Angelia “Nis, maaf ini, aku hari Minggu ada kegiatan di gereja sampai sore bangeeett, kayaknya nggak mungkin kita datang hari Minggu, bisa-bisa disuruh si Haris nyuci piring kita. Tapi aku kangen banget Nis sama kamu, udh 7 tahun nggak ketemu, aku mau denger juga laki-laki yang mau jadi calon suamimu, hehe”.
“waaah, oke yaudah gimana kalau hari Sabtu sore aja kita datengnya ke tempatnya Haris, jam 4 sore gitu kita berangkat?” Jawabku membalas pesan dari Angelia.
Tak sampai 1 menit, Angelia membalas “Siap Bos… Setuju..”. Oh iya saat ini aku bekerja sebagai perawat ya teman-teman, sedangkan si Angelia dia bekerja sebagai hakim.
Hari pertemuan tiba, waktu menunjukan pukul 16:15 WIB, 15 menit mundur dari jadwal pertemuan, Angelia belum juga sampai di rumahku, akupun berinisiatif untuk mengirim pesan WA ke Angelia “Ngel sampai dimana? Kok belum sampai? Ada masalahkah?”.
3 menit kemudian Angelia membalas pesanku “10 menit lagi ya Nis, motorku lagi dipinjam tetanggaku, oh iya motormu ada dirumah nggak?”.
Pertanyaan Angelia seketika aku jawab “wah motorku barusan aja dipakai Bapak Ibuku pergi ke pasar”.
“Oke yasudah aku pakai mobilku aja ya, 10 menit dengan tenaga angin aku sampai di rumahmu” jawab Angelia.
“Oke Ngel, nggak apa-apa, hati-hati ya, jangan ngebut.” saranku kepada Angelia.
Betul saja 10 menit kemudian Angelia sampai di rumahku, aku dan Angelia langsung menuju ke rumah Haris.
Saat di perjalanan dia bertanya “Nis, masih ingat rumahnya Haris nggak?”,
“Masih Ngel, tapi yang aku agak lupa belokan-belokan masuk ke rumahnya Haris, sama gang masuknya”, jawabku terhadap pertanyaan Angelia.
“Wah sama, yaudah kita ikutin petunjuk denah yang ada di undangan nikah aja ya” Sahut Angelia,
“Oke tapi aku ragu Ngel, kayaknya gang masuknya itu sempit deh, mobil kamu kayakanya nggak bisa masuk” ucapanku kepada Angelia.
“Yah semoga aja sekarang udah diperlebar, kan itu 8 tahun yang lalu sempitnya, hehe”. Jawab Angelia
Setelah lama mengikuti arah jalan berdasarkan denah undangan nikah, kami berhenti di suatu tugu,
seketika Angelia bertanya padaku, “Nis, tugunya mepet jalan banget, mobilku muat nggak ya?”.
Setelah kupandangi antara tugu, badan tepian jalan dan ukuran mobil Angelia dengan seksama, akupun menjawab, “Kayaknya nggak muat deng Ngel, kok aku lupa ya ada tugu disini”.
Setelah aku memberikan komentar, Angelia seketika malah melihat sebuah mobil sayur yang ada di depan kami, mau menuju ke arah berlawanan dari mobilnya Angelia.
Angelia pun berkata, “Eh sebentar Nis, ada mobil sayur tuh di depan, kalau mobil itu bisa lewat, kayaknya mobilku juga bisa lewat deh?”.
Setelah aku mengamati mobil sayur itu, akupun berkomentar kepada Angelia, “Angel itu mepet banget lho, body mobil sayur itu lebih kecil dari body mobilmu, jangan dipaksa, cari jalan lain aja ya”.
“Oke deh Nis, kita cari jalan lain ya” jawab Angelia.
Kami pun putar balik dan mencari jalan lain ke rumah Haris, akhirnya kami menemukan gang lainnya yang feeling kami ini adalah jalan yang benar menuju ke rumah Haris, kami pun mengikuti alur jalan dari gang itu, dan ternyataaaaa
“Loooooh, loooooh, lloohhh, haaaahaaaahaaahaaahaa (Kami tertawa bersama)” ternyata ujung dari gang yang berbeda tadi adalah tugu yang sebelumnya kami temukan. Setelah kami terkaget-kaget dengan kejadian itu, tiba-tiba Angelia turun dari mobilnya dan berjalan ke arah tugu, akupun bertanya “Mau kemana Ngel?”.
Angelia menjawab “Mau ngukur jalan Nis”.
Akupun terheran-heran dengan keputusan Angelia “Haaah ngukur jalan? Buset gimana caranya Ngel?”.
Yang dilakukan Angelia adalah dia berdiri di depan mobilnya, dan membentangkan tangannya, dia mengukur selisih lebar mobil dengan selisih jarak dari tugu ke badan jalan menggunakan tangannya, tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar tugu itu yang melihat ke arah dia.
Akupun bertanya lagi ke Angelia “Gimana Ngel, nggak muat kan? Kita balik ke jalan utama aja yuk Ngel, kayaknya aku ingat jalan yang lain”.
“Sebentar Nis, aku majuin sedikit lagi ya mobilnya, biar deket sama tugu, aku mau ukur lagi” jawaban Angelia yang membuatku berkesimpulan energi pantang menyerahnya dan rasa tak pernah malunya masih sama seperti saat kami masih SMP hehe.
Angelia mengukur kembali menggunakan tangannya dan akhirnya menyerah “Kamu bener Nis, ternyata nggak muat, hehe… kita balik ke jalan utama lagi deh ya, kita cari jalan lain” seloroh Angelia sambil menunjukan paras kekecewaan.
Setelah 20 menit kami mencari, akhirnya kami sampai ke desa tempat tinggal Haris.
“Kayaknya ini deh Ngel desanya” ucapku sambil melihat kiri-kanan mencari beberapa ciri khas dari desanya Haris.
Akhirnya kami sampai di gang masuk rumahnya Haris, tetapi mobil tak bisa masuk ke dalam gang sampai rumahnya Haris, akhirnya kami memutuskan untuk sedikit berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya Haris “Dari sini kita jalan kaki ya Nis?” tanya Angelia padaku.
“Iya Ngel tinggal sedikit lagi, kayaknya sekitar 200an meter udah sampai rumahnya Haris, ini janur kuningnya disini” Jawabku sambil aku menunjuk janur kuning melengkung yang ada di gang masuk rumahnya Haris.
Sebelum kami keluar dari mobil dan mulai jalan menuju rumahnya Haris, Angelia memberitahuku “Nis, aku lupa, amplopku belum dikasih nama, aku lupa juga bawa pulpen, gimana ya? Kamu bawa pulpen nggak?”.
“Wah aku juga nggak bawa Ngel, tadi harusnya tulis nama dulu di rumahku, tadi buru-buru sih.” Jawabku kepada Angelia.
Lalu aku memberikan ide “Ngel, kamu bawa pensil alis kan? Pakai pensil alismu aja deh gmn? Kan sama-sama pensil, bisa buat nulis kan? hehe”.
“hhhaaaahhaaahaaa waduh masak pakai pensil alis Nis? Tapi oke deh karena terpaksa, ide anehmu oke juga Nis, hehe. Semoga Putri & Haris langsung fokus ke uang yang di dalemnya ya, bukan tulisannya, hehe”. Jawab Angel menyetujui ideku.
Setelah Angelia menuliskan nama di amplopnya, kami pun keluar dari mobil, saat setelah jalan beberapa langkah aku melihat ada yang aneh dengan kaki Angelia.
“Ngel, kamu yakin pakai sandal jepit?” tanyaku kepada Angelia karena aku melihat sandal jepit yang dipakai Angelia.
“Ya ampyuuun, lupa Nis, aku ganti dulu ya sebentar di mobil” Jawab Angelia sambil menepuk dahinya.
Setelah mengganti sepatu kami pun berjalan menuju rumahnya Haris. Sesampainya di rumahnya Haris kami pun berbincang-bincang dengan Putri dan Haris sekaligus ajang reuni singkat mengingat masa-masa SMP kami. Setelah hampir 30 menit kami ngobrol, aku dan Angelpun berpamitan pulang, dan Angelia mengantaku pulang sampai ke rumah. Sesampainya di depan rumahku, tiba-tiba Angel sambil berkaca-kaca mengungkapkan
“Nis makasih ya buat hari ini, terima kasih juga untuk tidak berubah selama 7 tahun ini, masih sabar sama kelakukanku, makasih juga udah jadi teman baiku dari SMP, sikap toleransi yang kamu buat, pokoknya kamu luaar biiasa Nis, hehe”.
“Sama-sama Ngel,makasih juga ya udah jadi teman setia selama 7 tahun,dan terima kasih kembali buat caramu dulu ngajarin aku cara berteman dan membuka diri dengan orang lain, maaf ya aku jarang kontak kamu lagi semenjak lulus SMP” jawab ku dengan air mata sudah menetes dipipiku”.
“Oke Nis, oh iya aku lupa bahas calon suamimu tadi, nanti kita ngobrol itu di waktu yang pas ya, kita buat lebih intens, hehe” jawab Angel menanggapiku.
“Oke Ngel, tungguin aja ya undangannya #eh” jawabku sambil aku membuka pintu mobil.
“Oke hati-hati di jalan ya Ngel, nanti kita ketemu lagi ya, dadah” sahutku mengakhiri pertemuan kami di hari itu
Kadang-kadang perilaku sahabat kita begitu mengecewakan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi itulah tantangan yang mengajarkan kita untuk tidak menuntut orang lain secara berlebihan dan berani menerima segala kekurangan – Arif Syahertian
Sumber Gambar: http://hayatuna.net/khutbah-jumat-mendambakan-sahabat-dunia-dan-akhirat/
Mohon maaf apabila ada kesamaan nama karakter ^_^, nama karakter hanya fiktif belaka, terima kasih.
