Cerita Tsunami Aceh
Penulis: Bibi Hanafi
15 tahun sudah Tsunami Aceh berlalu, tapi kejadian itu masih terbenam di pikiranku. Pagi itu 26 Desember 2004, sekitar pukul 8 pagi, bumi Aceh berguncang, terasa sekali getaran yang menggoyangkan beberapa lampu dan perabotan yang ada di rumahku, saat gempa terjadi aku langsung seketika berlari menuju ke halaman rumah, agar tidak terkena reruntuhan bangunan yang sepertinya akan runtuh.
Benar saja, Tak berselang lama, suara bangunan runtuh terdengar. Bruam…….. Hampir seluruh rumah rata dengan tanah.
Setelah kejadian itu, anehnya air laut mulai surut, lalu beberapa orang pergi mendatangi pantai karena melihat banyak ikan yang menumpuk disana, tak berselang lama orang-orang itu mulai berlarian kembali ke daratan menyelamatkan diri karena melihat air laut berbalik mengarah naik ke daratan.
Benar saja, selang 3 menit banyak orang yang berteriak \”Air naik!! Air naik!!\” sambil berlari.
Saat itu akupun berlari menyelamatkan diri juga bersama mamaku ke mesjid kampung.
Oke, just for info, kejadian itu terjadi pada hari Minggu pagi alias ada yang masih dalam keadaan berpakaian seadanya, jadi saat itu ada yang masih hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong. I mean, tidak sedang berpakaian lengkap, tak berselang lama air sudah mulai memasuki daratan. Letak masjid kampungku tak terlalu jauh dengan pesisir pantai, orang orang yang berada di sekitaran masjid langsung berlarian ke dalam masjid, berusaha mencari tempat yang paling aman di dalam masjid.
Namun akhirnya air tetap masuk ke dalam masjid, air masuk setinggi 4 meter, aku dan mama tenggelam, aku berusaha sekuat tenaga untuk meraih tiang masjid, namun kuatnya arus air mendorongku hingga menuju ke pagar masjid, alhamdulillah saat itu pagar masjid berhasil ku raih.
Tak lama kemudian, aku diselamatkan oleh orang kampung yang berada di atas mesjid, mereka melemparkanku sebuah tali, lalu tali itu ku pegang, dan alhamdulillah tubuhku berhasil ditarik ke atas mesjid dan mamaku pun juga alhamdulillah berhasil ditarik ke atas masjid, alhamdulilah kami berhasil selamat dari musibah itu.
Keesokan harinya keadaan Banda Aceh sudah mengenaskan, kumpulan mayat dimana mana, bau busuk mayat menjadi wangi yang paling mengharumkan disaat itu, rumah sakit penuh, tempat pengungsianpun juga penuh.
Jalan raya menjadi tempat untuk meletakan mayat-mayat yang sudah tak bernyawa. Terkadang ada juga beberapa tubuh korban tsunami yang terjepit reruntuhan dan sulit untuk diselamatkan.
Kondisi mayat? Kembung, hitam dan berbau, karena air laut yang berkekuatan tinggi menerjang seluruh mayat, kemungkinan air laut banyak masuk ke perut mereka.
Pada tanggal 27 Desember 2004,PBB menyatakan tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Bantuan internasional mulai dikirimkan menuju kawasan bencana, kurang lebih 130.000 orang meninggal dalam tragedi mengenaskan ini, banyak orang kehilangan rumahnya termasuk aku.
Tsunami telah berlalu, tentu saja banyak hikmah yang didapatkan, diantaranya: Perjanjian damai pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), rasa kebersamaan yang kuat bangsa Indonesia, meningkatnya kajian kebencanaan, perbaikan sosialisasi bahaya tsunami, penerapan simulasi bahaya tsunami untuk memperkuat kesiapan masyarakat, konstruksi bangunan yang kokoh dan meningkatkan kedewasaan dalam menghadapi bencana.
Aku harap dengan cerita ini, teman-teman semua bisa lebih waspada lagi terhadap bencana alam yang terjadi, karena kitapun tak tahu kapan bencana itu akan datang dan jangan lupa tetap berdoa agar kita dijauhkan dari bencana apapun itu. Aamiin.
Penulis: Bibi Hanafi
Penyunting Tulisan: Karno Nur Cahyo
Sumber Gambar: https://blog.act.id/berikut-kronologi-kejadian-di-balik-bencana-tsunami-aceh-11-tahun-lalu/
LinkedIn: Bibi_Hanafi
No.tlp aktif: +62 87786257948
Instagram: @bibihanafi
