Orang Tua kita adalah salah satu sumbu dari 7 keajaiban rezeki yang mengitari kita, Ippho Santosa menamakannya sepasang bidadari, orang tua kita adalah bidadari pertama, sedangkan pasangan kita, suami atau istri kita adalah bidadari yang kedua, sepasang bidadari merupakan keajaiban yang kedua setelah sidik jari kemenangan, sepasang bidadari merupakan lingkar terdekat yang menjadi awal mula keseluruhan keajaiban rezeki yang kita terima dari Allah S.W.T., Ippho Santosa menamakannya lingkar keluarga.
Salah satu cerita unik datang dari Humas Medco Energi , Bondan Brilianto, bercerita, “Dalam perjalanan hidup saya, saya betul-betul merasakan betapa mustajab do\’a orang tua. Contoh saja, ketika saya kuliah dan ujian, orangtua selalu shalat dhuha dan berdo\’a, sampai ujian saya selesai. Begitu saya telepon, barulah orangtua berhenti berdo’a. Alhamdulillah semua jadi lancar. Yang sebaliknya juga terjadi, ketika saya ingin pindah kerja ke perusahaan lain dan orang tua kurang setuju, akhirnya semua berjalan tersendat-sendat. Menariknya, begitu saya berniat memberangkatkan kakak saya berhaji dan orangtua ikut mendo’akan, eh, saya malah ketiban rezeki, yaitu kesempatan jalan-jalan ke Amerika” terkutip di dalam buku 7 keajaiban rezeki karya Ippho “Right” Santosa halaman 32.
Berbakti kepada orangtua tidak akan pernah berakhir dengan sia-sia, apabila kita berhasil membuat sepasang bidadari tersenyum, pastilah Yang Maha Membalas serta merta akan mengulurkan tangan-Nya untuk kita.
Beberapa rahasia terkait do’a orang tua adalah sebagai berikut :
- 1. Keridhaan Yang Maha Kuasa itu tidak terlepas dari keridhaan orangtua
- 2. Berbakti kepada orangtua itu akan menguak langit dan memanggil rezeki
- 3. Do’a orang tua membuat rezeki kita betul-betul tercurah, namun hati-hati, demikian pula sebaliknya
- 4. Begitu do’a orang tua selaras dengan do\’a kita, berarti do\’a kita akan menjadi lebih \”melangit\” dan lebih cepat terwujud
- 5. Mintalah kedua orang tua kita untuk menyebutkan impian kita dalam do\’a mereka, insha allah ini jauh lebih gampang ketimbang mengganti atau mengubah do’a mereka
- 6. Sebelum kita memanjatkan do’a kita, silahkan kita awali dengan meminta maaf (ulang) kepada kedua orang tua kita
- 7. Orangtua dan do’anya, inilah bidadari yang pertama
Sesuai dengan judul artikel ini \”Pesan Orang Tua terhadap anaknya\”, saya akan menampilkan cuplikan kisah yang saya dapatkan dari blog guru SMP saya, Bapak Amin Mungamar (mrmung.com), insha allah semoga beliau selalu diberikan kebaikan dan kesehatan oleh Allah S.W.T. amin. Cerita ini sudah dari tahun 2010 saya dapatkan, alhamdulillah hari ini saya bisa publish cerita ini di blog saya, insha allah semoga bermanfaat untuk kita semua, berikut ceritanya :
Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah inbox.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya.
Ternyata ada sebuah pesan yang masuk beberapa bulan yang lalu.
Diapun mulai membaca isinya:
\”Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba menggunakan facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak tidak terlalu paham dengan itu. Lalu Bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf, Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak yang mengajarkan.
Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah !
Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil : Bapak, Bapak, Bapak. Bapak Bahagia sekali rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa memanggil-manggil Bapak, sudah bisa memanggil-manggil Ibunya.
Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah, Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak sekali. Kamulah penghibur kami setiap saat, walaupun hanya dengan mendengar gelak tawamu.
Saat kamu masuk Sekolah Dasar, Bapak masih ingat kamu selalu bercerita dengan Bapak ketika membonceng motor tentang apapun yang kamu lihat di kiri kananmu dalam perjalanan. Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya telah mengetahui banyak hal di luar rumahnya. Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu sekolah, sebab kamu lucu sekali, menyenangkan, Bapak sangat mengiginkan kamu menjadi anak yang pandai dan taat beribadah. Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu punya memiliki handphone? Diam-diam waktu itu Bapak menabung karena kasihan melihatmu belum memiliki Handphone sementara kawan-kawanmu sudah memiliki.
Ketika kamu masuk SMP, kamu sudah mulai punya banyak kawan-kawan baru. Ketika pulang dari sekolah kamu langsung masuk kamar. Mungkin kamu lelah setelah mengayuh sepeda, begitu pikir Bapak. Kamu keluar kamar hanya pada waktu makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya lagi ketika akan pergi bersama kawan-kawanmu. Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak. Tahu-tahu kamu sudah mulai melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami saat perlu-perlu saja, serta membiarkan kami saat kamu tidak perlu.
Ketika mulai kuliah di luar kotapun sikap kamu sama saja dengan sebelumnya, jarang menghubungi kami kecuali disaat mendapatkan kesulitan, sewaktu pulang liburanpun kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.
Bapak bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan-kawanmu itu lebih penting dari Bapak dan Ibumu? Adakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan saat nanti kamu mau menikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?
Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari saja lewat sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah menjadi-jadi.
Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada kamu. Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma Bapak sudah merasa terlalu tua. Usia Bapak sudah diatas 60 tahun. Kekuatan Bapak tidak sekuat dulu lagi. Bapak tidak minta banyak… Kadang-kadang, Bapak cuma mau kamu berada di sisi bapak. Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada Bapak. Bercerita pada Bapak seperti saat kamu kecil dulu.
Andaipun kamu sudah tidak punya waktu sama sekali berbicara dengan Bapak, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Allah S.W.T. Jangan letakkan cintamu pada seseorang di dalam hati melebihi cintamu kepada Allah S.W.T. Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali-kali mengabaikan Allah S.W.T.
Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak atas curhat Bapak ini. Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman. ”.
Pemuda itu meneteskan air mata, terisak. Dalam hati terasa perih tidak terkira……………….
Bagaimana tidak?
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.
Demikian kisahnya, insha allah, semoga bermanfaat untuk kita semua, amin
Saya mencoba mengutip kembali, salah satu pembahasan dari buku 7 Keajaiban Rezeki miliki Ippho Santosa, terkait Kebaikan Orang Tua VS Balasan kita :
- 1. Saat kita berusia 1 tahun, orangtua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.
- 2. Saat kita berusia 2 tahun, orangtua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orangtua memanggil kita.
- 3. Saat kita berusia 3 tahun, orangtua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.
- 4. Saat kita berusia 4 tahun, orangtua memberi kita pensil berwarna. Sebagai balasan, kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil warna tersebut.
- 5. Saat kita berusia 5 tahun, orangtua membelikan kita baju yang bagus-bagus. Sebagai balasan, kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.
- 6. Saat kita berusia 10 tahun, orangtua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasan, kita malah malas-malasan bahkan bolos sekolah.
- 7. Saat kita berusia 11 tahun, orangtua mengantarkan kita ke mana-mana. Sebagai balasan, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.
- 8. Saat berusia 12 tahun, orangtua mengizinkan kita menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasan, kita malah meminta orangtua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.
- 9. Saat kita berusia 13 tahun, orangtua membayar biaya kemah, biaya pramuka, dan biaya Iiburan kita. Sebagai balasan, kita malah tidak memberinya kabar ketika kita berada di luar rumah.
- 10. Saat kita berusia 14 tahun, orangtua pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasan, kita malah menolak dan mengeluh, “Papa, Mama, aku sudah besar!”.
- 11. Saat kita berusia 17 tahun, orangtua sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-teman kita yang sama sekali tidak penting.
- 12. Saat kita berusia 18 tahun, orangtua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasan, kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.
- 13. Saat kita berusia 19 tahun, orangtua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasan, kita malah meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, \”Papa, Mama, aku malu! Aku kan sudah gede!”.
- 14. Saat kita berusia 22 tahun, orangtua memeluk kita dengan haru ketika kita diwisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepada mereka, ”Papa, Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membeli\’ kan aku ini dan itu?\”.
- 15. Saat kita berusia 23 tahun, orangtua membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan. Sebagai balasan, kita malah mencela, ” Duh! Kalau mau beli apa-apa untuk aku, bilang-bilang dong! Aku kan nggak suka model seperti ini!”.
- 16. Saat kita berusia 29 tahun, orangtua membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah ke luar kota meninggalkan mereka, dan menghubungi mereka hanya dua kali dalam setahun.
- 17. Saat kita berusia 30 tahun, orangtua memberi tahu kita bagaimana cara merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata, ”Papa, Mama, zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu.”
- 18. Saat kita berusia 4O tahun, orangtua sakit-sakitan dan membutuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralasan, ”Papa, Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku.”
- 19. Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada orangtua. Bukan mustahil, itu yang menyumbat rezeki dan kebahagiaan kita selama ini.
Semoga artikel ini bisa menambah rasa sayang kita, rasa hormat kita, rasa berbakti kita kepada kedua orang tua kita, dan semoga kita dipersatukan Allah S.W.T. dengan sepasang bidadari kita di Jannah. Amin
Terima kasih teman-teman pembaca sudah bersedia membaca artikel ini, jangan lupa tersenyum hari ini ^_^.
Sampai berjumpa di artikel selanjutnya…

Masya Allah semakin hebat semakin merendah ya nak tebarkan ilmu kebajikan dan tetap dalam perjoeangan…