Banyak Hujan, Tetapi Sedikit Tanaman

By Karno Nur Cahyo

30 December 2018

Kali ini saya akan coba membahas tentang salah satu tanda kiamat kecil, yaitu Banyak Hujan, tetapi Sedikit Tanaman, salah satu tanda yang sudah diberikan petunjuknya oleh Nabi Muhammad S.A.W. Kita awali dari sabda Nabi Muhammad S.A.W. dari Abu Hurairah R.A., bersabda Rasulullah S.A.W.:

\"\"

Yang dimaksud dengan paceklik bukanlah mereka tidak dilimpahi hujan, akan tetapi paceklik itu mereka tetap diberi hujan dan dilimpahi hujan lagi, tetapi bumi tidak menumbuhkan satu tanaman pun.
HR. Muslim, Shahih Muslim, kitab Al-Fitan, hadits no. 2904 [lihat Muslim bi Syarh An-nawawi (9/228)]; Ahmad, Baqi Musnad Al-Mukatstsirin, hadirs no. 8724 [Al-Musnad (2/476)]

 

Dari Abdullah bin Amr bin Ash rhuma, dia berkata:

\"\"

Dajjal itu memiliki tanda-tanda yang tertentu. Apabila mata air-mata air kering, sungai-sungai habis airnya, bunga-bunga yang harum baunya menguning layu, Madzhij dan Hamdan berpindah dari Irak, lalu Qinnasrin turun, maka kalian tunggulah Dajjal pada hari itu atau sore harinya.
HR. Al-Hakim, kitab Al-Fitan, dia berkomentar tentangnya, \”Shahih sanadnya dab Adz-Dzanabi mengukuhkannya.\” [Al-Mustadrak (4/506)]


\"\"

Revolusi Industri yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap telah menjadi babak baru bagi beragam penemuan-penemuan penting lainnya. Dan abad 20 ini telah menjadi bukti betapa ramainya penemuan-penemuan teknologi susulan, dan berikutnya telah mendorong mereka untuk mengkonsumsi bahan bakar fosil lebih banyak dari yang sebelumnya. Sejak tahun 1950 sampai 1979M konsumsi energi fosil dunia telah meningkat empat kali lipat dan terus meningkat sekarang ini. Efek yang ditimbulkan dari pembakaran ini adalah bahan-abahan energi fosil yang sudah dibakar akan bercampur dengan uap air dan oksigen di atmosfer dan membentuk asam nitrat serta asam belerang, kalau larut dalam hujan, asam-asam ini jatuh ke tanah dan mengakibatkan hancurnya hutan, tanaman pangan, dan berbagai organisme yang hidup di air tawar.

Jika seseorang melakukan pembakaran dengan energi fosil berupa batubara dan minyak, maka akan keluar emisi SO, partikal, dan nitrogen oksida. SO2 dan NO. Jika gas-gas tersebut bereaksi di udara, maka terbentuklah polutan sekunder seperti NO2, asam nitrat, butiran asam sulfat dan garam nitrat serta garam sulfat. Polutan yang jatuh ke bumi akan menjadi hujan asam, embun asam, dan partikel asam.

Betapa menakjubkannya ketika peristiwa alam yang hanya bisa dideteksi dengan sains dan teknologi modern itu ternyata telah dinubuwatkan sejak 15 abad yang silam. Memang bahasa hujan asam tidak dikenal di kalangan sahabat, Rasulullah S.A.W. hanya menjelaskan tentang adanya hujan yang memiliki dampak merusak atau tidak memberi banyak manfaat bagi manusia. Dari Anas R.A.  bersabda Rasulullah S.A.W.:

\"\"

Akan datang kepada manusia suatu masa yang langit melimpahkan hujan tetapi bumi tidak menumbuhkan tanaman
HR. Al-Hakim, kitab Al-Fitan wa Al-Malahin, hadits no.8567, dia mengatakan, \”Hadits ini shahih sanadnya, dan dikukuhkan oleh Adz-Dzahabi.\”[Al-Mustadrak (4/559)]


Hadits tersebut mengisyaratkan tentang salah satu bentuk hujan yang akan banyak terjadi menjelang akhir zaman, dimana hujan tersebut tidak mampu menumbuhkan tanaman. Wallahu a\’lam bish shawab.

\"\"

Namun demikian, Dr. Muhammad al-Mubayyadh punya pendapat lain terkait dengan hujan yang tidak menumbuhkan tanaman. Al-Mubayyadh memasukan tanda itu dalam tanda akhir zaman yang akan terjadi menjelang keluarnya Dajjal. Hujan yang dimaksud bukan hujan air biasa, melainkan hujan batu yang akan menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Beliau berpendapat bahwa dua hadits di atas (hadits Abu Hurairah dan hadits Anas ra) mengungkapkan fakta terkuat yang menunjukan perkara yang dikukuhkan secara ilmiah bahwa paceklik terjadi sesudah jatuhnya meteor.

Beliau berkata, \”Sesungguhnya kebiasaan yang normal pada dunia tumbuhan adalah apabila cara dan metode penanaman sudah dilakukan secara sempurna maka tanaman itu akan tumbuh. Akan tetapi bumi tidak dapat menumbuhkan tanaman apapun secara sempurna apabila tanpa bantuan dari karbon dioksida, cahaya matahari, tanah, dan air.\”

Tanah sudah ada. Hujan, sebagaimana yang dituturkan pada hadits, sudah turun. Akan tetapi bumi tidak dapat menumbuhkan tanaman, sebab yang paling mungkin di sini adalah terhalangnya sinar matahari sampai ke bumi.

Ahli Astronomi mengatakan sesudah jatuhnya meteor ke bumi, membumbunglah ke atas lingkaran asap tebal yang menutupi seluruh bola bumi, menghalangi bumi dari sinar matahari selama paling tidak setahun penuh. Keadaan ini mengakibatkan matinya lapisan humus dan terhalangnya pertumbuhan tanaman, baik secara total maupun secara parsial.

\"\"

Di sini kita dapat mengamati kesesuaian yang nyaris sempurna antara deskripsi para ilmuwan dengan petunjunjuk Nabi Muhammad S.A.W. yang menunjukan terhalangnya pertumbuhan tanaman walaupun hujan tetap turun seperti biasanya. Inilah keadaan yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. sebagai paceklik atau kelaparan, dan beliau tidak menyatakan bahwa tidak turunnya hujan itu sendiri (penyebab) paceklik. Ini adalah sabda yang menakjubkan sekaligus menunjukan betapa presisi dan telitinya hadits Nabi Muhammad S.A.W. dalam menggambarkan keadaan masa depan.

Sebagaimana yang sudah-sudah, sebenarnya paceklik itu bukanlah ketika kita tidak diberi hujan, karena ketiadaan hujan itu keadaan yang lumrah terjadi pada bola bumi. Hujan menimpa tempat tertentu untuk satu kurun waktu yang tertentu pula, kemudian hujan tidak turun sesudahnya. Atau paling tidak biasanya masih tersisa lapisan humus, baik di tempat itu sendiri maupun pada tempat-tempat lain yang dekat dengannya. Paceklik normal ini tidak menghalangi turunnya hujan, ini adalah fenomena biasa yang kita namakan dengan paceklik secara kisan (krisis ekonomi).

Akan tetapi paceklik yang sesungguhnya itu ketika hujan turun akan tetapi tidak dapat menumbuhkan satu pun tanaman di bumi. Inilah yang disebut dengan paceklik, tidak ada kias di antara dua jenis paceklik itu.
Lihat: Ensiklopedia Akhir Zaman, hal : 620. Granada Mediatama – Solo

Sumber tulisan berasal dari Ensiklopedia Hari Akhir Hal 93-96 dari penulis: Ustadz Abu Fathiah Al-Adnani

About Karno Nur Cahyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *